Kamis, 18 Maret 2010

Teknik Marketing Jenius Microsoft ala Pengedar Narkoba

Teknik Marketing Jenius Microsoft ala Pengedar Narkoba :

Berikut ini Strategi Marketing Microsoft yang menurut saya punya kemiripan dengan teknik pengedar Narkoba :

Strategi Pertama : Gratiskan dulu di muka, jika sudah kecanduan maka pencandu bisa disuruh membayar mahal. Untuk sekolah-sekolah digratiskan, akibatnya : begitu orang tersebut lulus, karena sudah kecanduan maka terpaksa akan beli software tersebut .

Strategi Kedua : Berikan produk gratis bila perlu beri komisi besar untuk para salesman di garis depan : Sebagai kompensasi serta komisi karena sudah berjasa membantu mempopulerkan produknya, Microsoft menggratiskan softwarenya untuk aparat pemerintah. Jika software tersebut dipakai oleh pemerintah, mau tidak mau maka masyarakat akan mengikuti. Apalagi lembaga pendidikan tentu saja ingin lulusannya diterima kerja di instansi-instansi pemerintah. Pemerintah Indonesia entah memang tidak sadar atau pura-pura tidak sadar karena dapat kompensasi – jelas sudah menjadi salesman yang handal untuk produk-produk Microsoft. Pemakaian Software-software Open Source terbukti cuma retorika untuk sedikit menentramkan pakar-pakar TI beneran di Indonesia.

Strategi Ketiga : Berikan barang gratis untuk para tukang pukul : Microsoft harus berbaik-baik dengan aparat penegak hukum di Indonesia karena mereka juga ujung tombak dalam penjualan software-software Microsoft. Software Microsoft nyatanya bisa dipakai secara gratis oleh aparat kepolisian Indonesia, baik dengan agreement(asli) maupun tanpa agreement(bajakan).

Strategi Keempat : Strategi Yoyo, tahu kapan menarik tahu kapan mengulur serta selalu memberikan jalan keluar. Jika dilakukan sweeping produk-produk bajakan secara konsisten maka orang-orang yang tidak punya duit akan 100% berpindah ke Linux karena peluang mereka memakai Windows sudah sama sekali tidak ada. Tetapi bila sweeping dilakukan hangat-hangat tahi ayam, maka justru hasilnya akan lebih besar - baik dari sisi Microsoft maupun aparat keamanan Indonesia. Sweeping yang dilakukan secara tidak konsisten justru akan memberikan hasil besar : Dari sisi aparat keamanan, maka akan banyak pembajak yang bisa ditangkap. Aparat tidak perlu fokus berupaya menciptakan iklim yang mencegah pembajakan. Tetapi lebih enak membiarkan saja terjadinya pembajakan sampai ke peak tertentu lalu bila waktunya tiba bisa memperoleh ikan-ikan yang cukup besar. Dari sisi Microsoft, sweeping yang terlalu sering juga tidak akan menguntungkan pembelian produk Microsoft karena bisa jadi pemakai Windows bajakan terpaksa mau belajar Linux. Dengan memberi semacam peluang untuk pembajakan sampai tahap tertentu, produk Windows justru masih memperoleh tempat di hati masyarakat.

Lalu salahkah strategi model Pengedar Narkoba yang dilakukan oleh Microsoft tersebut ? Jawabannya tentu saja tidak. Semua langkah di atas jelas legal dan terpuji kalau dilihat dari sisi Marketing. Secara jujur saya katakan saya tidak anti Microsoft maupun Bill Gates. Saya sendiri secara pribadi sangat mengagumi Bill Gates baik dari sisi kesederhanaan beliau dan kejeniusan pemikirannya. Tetapi di sisi lain, saya juga berasumsi bahwa software Microsoft gratis sangat mungkin akan memiliki efek kurang menguntungkan bagi dunia TI Indonesia dalam jangka panjang.

Menurut saya alangkah baiknya jika pemerintah Indonesia bertindak bijak dalam menanggapi bantuan Microsoft tersebut. Jangan hanya terpesona dengan jumlah bantuan serta mengabaikan banyak aspek lain karena silau dengan barang mahal yang digratiskan. Kalaupun bantuan tersebut diterima, baik karena alasan politis maupun untuk menjaga hubungan baik. Mulai saat ini pemerintah semestinya juga harus semakin serius menggalakkan pemakaian software-software alternatif yang murah untuk rakyat.

Bersikap adillah dengan rakyat anda. Jangan mentang-mentang pemerintah memakai barang mahal yang digratiskan, pemerintah kemudian malah jadi sales sekaligus tukang pukul -nya Microsoft. Krisis BBM saat ini, krisis pangan, maraknya pembajakan Software dan sejenisnya, muaranya sebenarnya sama : Karena pemerintah Indonesia tidak sedari awal mengedukasi rakyatnya untuk memakai sumber energi alternatif, bahan pangan alternatif, software alternatif serta alternatif-alternatif lain yang lebih murah dan tidak membebani keuangan negara dan juga rakyat itu sendiri. Sudahkah pemerintah kita peka dengan hal-hal semacam itu? Dari sisi retorika jawabannya selalu iya, tetapi prakteknya justru berlawanan dengan apa yang digembar-gemborkan.

Kalau pemerintah serius dengan segala macam alternatif yang murah, maka pemerintah sendiri semestinya menggalakkan barang-barang murah tersebut di kalangan intern pemerintah sendiri. Tetapi faktanya kan tidak demikian. Aparat pemerintah memang memakai barang yang terkesan murah (padahal aslinya mahal) bagi mereka sendiri - karena rakyat yang membayar biayanya - atau sebagai kompensasi telah menjadi sales yang baik bagi produsennya.

Aparat pemerintah enak-enakan di atas sana – memakai barang-barang mahal yang serba gratis. Tetapi di level bawah : Rakyat Indonesia dibebani - serta juga secara tidak langsung terus diedukasi dengan pemakaian barang-barang mahal.

Jadi jangan kambing hitamkan rakyat Indonesia atas maraknya pembajakan software, atas krisis BBM serta krisis pangan, karena bapak-bapak yang terhormat tidak pernah mengajarkan secara serius pemakaian barang-barang alternatif yang lebih murah. Yang saya maksud murah adalah : Murah dari sisi Negara ( tidak membebani Anggaran Negara) serta juga murah dari sisi rakyat. Sudahkah pemerintah secara serius melakukan itu semua ? Tanya sajalah kepada rumput yang bergoyang.

NB : Memakai Windows Vista jelas sama sekali tidak murah bahkan barang gratisannya atau bajakannya sekalipun - karena membutuhkan perangkat keras dengan kemampuan lebih. Kalaupun softwarenya 'digratiskan' oleh Mr Bill Gates, tetap akan cukup banyak dana yang dibutuhkan untuk penyesuaian setiap hardware-nya. Uang siapa yang dipakai ? Kalau uang pribadi tentu silakan saja. Tetapi kalau yang dipakai duit rakyat ? Yah... memang kasihan betul jadi rakyat Indonesia.

Jumat, 12 Maret 2010

Menjadi Yang Pertama Pertama Dalam Benak Konsumen

Pernahkah Anda melihat orang menjual sebuah produk Air Minum Dalam Kemasan dengan menyebut merek tertentu, yaitu AQUA ? Walaupun yang dijual sebenarnya bukanlah merek dari produk tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Atau mengapa semua kendaraan bermotor masih disebut “ Honda” oleh sebagian besar orang yang mengasosiasikan ke sebuah merek saja ?

Inilah apa yang disebut dalam dunia marketing sebagai “Top of Mind”, yaitu sesuatu yang langsung tertanam di dalam benak konsumen sebagai hasil dari apa yang didengar, dilihat ataupun rasakan dari sebuah produk. Contoh paling gampang sampai saat ini banyak orang masih belum bisa membedakan antara Flexi dengan CDMA. Semua handphone CDMA pasti dianggap Flexi. Padahal banyak provider yang CDMA yang mengeluarkan produk lain seperti, Esia, Starone, Fren, Smart ataupun yang lain. Tetap saja mereka menganggap itu Flexi semua. Itu dikarenakan Flexi muncul pertama kali sebagai provider yang berbasis CDMA dimana pada saat itu orang-orang sudah familiar dengan GSM. Walhasil, terbentuklah sebuah different di benak mereka. Dan akhirnya tertanam di dalam benak mereka juga yang lebih dikenal dengan istilah brand awareness.

Nah, sekarang bagaimana menciptakan efek seperti ini bagi usaha kita ? Salah satu caranya adalah dengan POSITIONING. Positioning merupakan suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk, brand, perusahaan, atau individu dalam alam pikiran konsumen. Usaha ini merupakan langkah penting untuk merebut perhatian pasar karena situasi masyarakat di pasar sudah over communicated dengan begitu banyaknya iklan-iklan yang mereka santap tiap hari baik dari semua media.

Untuk berhasil dalam masyarakat yang sudah jenuh dengan berbagai merk produk serta sudah demikian banyaknya aneka ragam periklanan, kita harus menciptakan posisi dalam pikiran atau benak konsumen. Posisi di sini tidak hanya mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan perusahaan sendiri, melainkan juga para pesaingnya. Kita harus menjadi yang pertama masuk dalam benak pikiran konsumen.

Dalam percakapan disekitar lingkungan kita sering mendengar perkataan, "Saya ingin membeli Levis merek Tira". Atau pertanyaan, "Kodakmu merk apa?". Seorang Bapak di rumah berkata kepada istrinya, "Bu, Pepsodentnya habis, tolong beli di warung?". Dalam benak kita Levis adalah nama lain lain celana jeans, Kodak adalah nama lain dari kamera, Pepsodent adalah nama lain dari pasta gigi. Padahal nama-nama itu adalah merek produk. Merk produk inilah yang pertama menempati posisi dalam benak konsumen dan selalu menjadi "Yang Paling Diingat" atau Top of Mind.

Jadi, sebenarnya positioning diciptakan untuk mendukung pembentukan citra produk sehingga sangat berkaitan dengan brand dari produk tersebut.

Terdapat beberapa strategi untuk menciptakan positioning suatu produk:

  • 1. Penonjolan karakterisasi produk

Anda bisa memilih satu di antara sekian unsur produk yang dapat ditonjolkan. Misalnya teh botol tidak diposisikan sebagai minuman teh yang panas, namun diposisikan sebagai minuman ringan yang sama dengan cola. Sehingga teh botol bukanlah teh yang harus diminum pada saat minum teh di sore hari, tetapi minuman tepat untuk perjalanan, dan untuk minuman penutup setelah makan. Contoh lain adalah Produk Mariteh yang tampil dengan memposisikan diri sebagai teh bubuk instan. Posisi ini membedakan dengan produk teh lain yang penyajiannya harus diseduh terlebih dahulu.

  • 2. Penonjolan harga

Anda memilih harga murah sebagai hal yang akan ditonjolkan. Misalnya ketika sabun cuci Daia diluncurkan pertama kali, ia mengusung posisi sebagai sabun cuci yang murah harganya dibandingkan dengan produk sejenis yang telah dulu ada, yaitu Rinso dan SoKlin. Iklan nyamuk Hit sedari awal hingga kini selalu mengusung posisi sebagai obat nyamuk yang murah. Tentu saja Anda harus berhati-hati dengan strategi penonjolan harga ini karena untuk konsumen harga sering diasosiasikan dengan mutu.

  • 3. Penonjolan kegunaan

Suatu produk dikaitkan dengan kegunaan khusus. Bererapa obat batuk, flu, deman, dan sakit kepala sebenarnya mengandung komposisi yang relatif sama. Namun, obat Paramex memposisikan diri sebagai obat sakit kepala, Konidin dan Woods sebagai obat batuk, Decolden sebagai obat flu. Bahkan Feminax yang kandungan komposisinya sama dengan Paramex, diposisikan kegunaannya khusus sebagai obat sakit di kala datang bulan. Anda harus memilih kegunaan khusus dari produknya untuk memposisikan diri.

  • 4. Positioning menurut pemakainya

Produk yang sangat tua menggunakan strategi ini adalah sabun Lux. Dengan memposisikan diri bahwa produk ini dipakai oleh bintang film kondang dunia Sophia Lauren, brand yang terbentuk untuk sabun Lux adalah sabunnya bintang film. Dalam perkembangannya di Indonesia sabun Lux selalu menggunakan bintang film berkaraker sebagai ikonnya. Produk lain yang menggunakan strategi ini adalah produk-produk kosmetik, oli Top One, dan beberapa produk mobil.

  • 5. Positioning menurut kelas produk

Beberapa produk yang "terjepit" perlu melakukan keputusan positioning yang kritis dengan mengaitkannya pada kelas produk yang bersangkutan. Misalnya, produk 7 Up terjepit di antara produk minuman cola Pepsi dan Coca-Cola, sehingga ia menggunakan slogan "7-Up is the uncola drink. But with a better taste" untuk memposisikan dirinya.

  • 6. Positioning dengan menggunakan simbol-simbol budaya

Simbol yang dijadikan identifikasi ini memiliki arti penting bagi konsumen. Simbol ini tidak digunakan oleh positioning pesaing. Misalnya produk Mustika Ratu diposisikan sebagai produk yang mewarisi budaya Kraton di Jawa.

  • 7. Positioning langsung terhadap pesaing

Untuk budaya , strategi ini sering dianggap tidak etis. Pernah terdapat produk yang memanfaatkan strategi ini, namun sekarang sudah tidak dipakai lagi. Mungkin Anda ingat di awal era 90-an muncul banyak produk motor cina, dengan model bangau. Dengan aktor Basuki (alm) yang sibuk menendangi beberapa ekor bebek, dipakailah slogan "sekarang bukan zamannya bebek" . Namun, iklan dengan strategi positioning tersebut segera disambut dengan keras oleh pengiklan produk motor bebek. Sehingga saat ini, produk motor bangau tidak begitu melekat dalam benak konsumen.

Di Amerika perusahaan persewaan mobil Avis secara langsung memposisikan diri dengan pesaingnya, yaitu Hertz dengan slogan "We are number two, so we try harder". Strategi ini berhasil melekat dalam benak konsumen. Banyak orang memilih Avis yang lebih rendah (underdog), tetapi memiliki semangat kerja yang hebat.

Contoh lain lagi dari negeri kita adalah ketika launching film karya Denis Adiswara yang berjudul “kwaliteit 2”. Di tagline film itu terdapat tulisan, “ Bila dibioskop lain telah penuh, silahkan tonton di bioskop sebelah “.(www.brilliancommunications.blogspot.com)

Nah, Anda tahu kan dimana perbedaannya…